Kamis, 11 November 2010

Kebudayaan primitif, Agraris dan Industial


A. Kebudayaan Primitif Agraris
Berbicara tentang masalah primitif, maka kita akan berbicara tentang kehidupan masyarakat desa. Begitu pula, kehidupan desa selalu dikaitkan dengan kehidupan agraris, yaitu kelompok masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian di bidang pertanian. Desa sebagai penghasil pangan utama, menjadi tumpuan bagi masyarakat kota.

Menurut Bintarto, desa mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :
  • Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, serta penggunaannya.
  • Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.
  • Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan.
Maju mundurnya sebuah desa bergantung dari tiga unsur ini yang dalam kenyataannya ditentukan oleh faktor usaha manusia (human efforts) dan tata geografi (geographical setting). Adapun menurut Paul H. Landis, desa adalah daerah yang penduduknya kurang dari 2.500 jiwa. Dengan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Mempunyai pergaulan yang saling mengenal antara beberapa ribu jiwa
b. Memiliki perhatian dan perasaan yang sama dan kuat tentang kesukaan terhadap adat kebiasaan
c. Memiliki cara berusaha (dalam hal ekonomi), yaitu agraris pada umumnya, dan sangat dipengaruhi oleh keadaan alam, seperti : iklim, kekayaan alam, sedangkan pekerjaan yang bukan agraris bersifat sambilan.
Jadi yang dimaksud masyarakat pedesaan adalah sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu yang penghuninya mempunyai perasaan yang sama terhadap adat kebiasaan yang ada, serta menunjukkan adanya kekeluargaan di dalam kelompok mereka, seperti gotong royong dan tolong-menolong.
1. Ciri-ciri Masyarakat Pedesaan
Masyarakat pedesaan ditandai dengan pemilikan ikatan perasaan batin yang kuat sesama anggota warga desa sehingga seseorang merasa dirinya merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat tempat ia hidup, serta rela berkorban demi masyarakatnya, saling menghormati, serta mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama di dalam masyarakat terhadap keselamatan dan kebahagiaan bersama. Adapun ciri-ciri masyarakat pedesaan antara lain : Setiap warganya mempunyai hubungan yang lebih mendalam dan erat bila dibandingkan dengan warga masyarakat di luar batas-batas wilayahnya.
Sistem kehidupan pada umumnya berkelompok dengan dasar kekeluargaan Sebagian besar warga masyarakat pedesaan hidup dari pertanian. Masyarakatnya homogen, seperti dalam hal mata pencaharian, agama, adat istiadat dan sebagainya.
2. Kegiatan Masyarakat Desa
Salah satu ciri khas dalam kehidupan masyarakat desa adalah adanya semangat gotong-royong yang tinggi. Misalnya pada saat mendirikan rumah, memperbaiki jalan desa, membuat saluran air dan sebagainya. Gotong royong semacam ini lebih dikenal dengan sebutan kerja bakti, terutama menangani hal-hal yang bersifat kepentingan umum. Ada juga gotong-royong untuk kepentingan pribadi, misalnya mendirikan rumah, pesta perkawinan dan kelahiran. Pekerjaan gotong royong terdiri atas dua macam, yaitu :
· Kerja sama yang timbulnya dari inisiatif warga masyarakat itu sendiri (diistilahkan dari bawah, tanpa ada paksaan dari luar)
· Kerja sama dari masyarakat itu sendiri, tapi berasal dari luar (biasa berasal dari atas, misalnya atas perintah aparat desa)
Lebih dari 82 % masyarakat Indonesia tnggal di pedesaan dengan mata pencaharian agraris. Masyarakat pedesaan mempunyai penilaian yang tinggi terhadap mereka yang dapat bekerja keras tanpa bantuan orang lain. Jadi, mereka bukanlah masyarakat yang senang berdiam diri tanpa aktivitas, tanpa ada suatu kegiatan, tetapi sebaliknya. Pada umumnya masyarakat desa sudah bekerja keras, namun mereka perlu diberikan pendorong yang dapat menarik aktivitas mereka, sehingga cara dan irama bekerjanya menjadi efektif, efisien dan kontinyu.
B. Masyarakat Industrial
Pada perencanaan pembangunan di negara berkembang termasuk Indonesia. Pada umumnya dalam merumuskan pembangunan tidak lain adalah sebagian upaya untuk memajukan suatu masyarakat. Mereka berpikir bahwa masyarakat mereka yang agraris harus diubah menjadi masyarakat yang bercorak industrial. Usaha itu disebut sebagai proses transformasi masyarakat agraris menuju masyarakat industrial.
Proses transformasi adalah proses perubahan secara mendasar dan besar-besaran yang dilakukan untuk mengubah basis ekonomi, sosial dan politik, yang dari semula bercorak pertanian agraris menuju kehidupan industrial.
Proses transformasi masyarakat di negara agraris pada dasarnya mencakup tiga macam perubahan, yaitu :
· Perubahan ekonomi yang relatif stabil
· Perubahan kelembagaan politik sosial dari ilmu tradisional menuju modern.
· Perubahan kelembagaan politik dari feodal menuju demokrasi
Ketiga jenis perubahan tersebut harus berjalan secara bersama-sama dan terkait satu sama lain untuk memperoleh perubahan mendasar dalam basis ekonomi.
Proses transformasi masyarakat agraris menuju industrial hanya akan terjadi kalau ada campur tangan yang terencana dan sistematis dari pemerintah atau negara.
Dalam hal ini, industrialisasi yang dimaksud adalah setiap usaha dan strategi yang dilakukan pemerintah untuk menjaga basis ekonomi masyarakat dari semula bercorak agraris pertanian menuju industrialisasi yang perekonomiannya berbasiskan pada produksi, kebijaksanaan industrialisasi ini merupakan prioritas dalam perubahan ekonomi yang membawa perubahan pada orientasi perilaku masyarakat ini jadi semakin rasional.
Kehidupan masyarakat industrial adalah kehidupan di dalam masyarakat perkotaan. Karenanya untuk membicarakan kebudayaan industrial, maka kita akan berbicara mengenai kebudayaan masyarakat kota.
Beberapa ahli mengartikan kota sebagai suatu himpunan penduduk yang bertempat tinggal di dalam pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, kesenian dan ilmu pengetahuan.
Adapun ciri-ciri masyarakat kota adalah :
· Jumlah penduduk besar dan padat, terutama di pusat kota.
· Mempunyai penduduk yang beraneka ragam karena asal usul mereka yang berlainan.
· Penduduknya lebih dinamis, banyak mengadakan perubahan pekerjaan, mudah berpindah tempat tinggal, dan sebagainya.
· Lebih cepat, lebih bebas dan mudah bergerak, lebih cepat menerima dan membuang sesuatu yang baru. Peradaban macam ini memberikan kepada mereka sesuatu perasaan harga diri yang besar.
Keadaan kota dengan bermacam corak hidup seperti di atas menarik masyarakat pedesaan untuk melakukan urbanisasi. Akibatnya, terjadi berbagai masalah sosial, baik bagi kota yang dituju maupun desa yang ditinggalkan.
Adapun yang menjadi sebab terjadinya urbanisasi antara lain :
· Perkotaan lebih berkembang dan modern
· Kesempatan kerja yang lebih banyak di kota
· Kota menjadi pusat kebudayaan seperti kesenian, pendidikan serta kemewahan, kenikmatan dan kesenangan.
Pengaruh urbanisasi terhadap kehidupan masyarakat kota adalah sebagai berikut :
· Membuat masyarakat kota terdiri atas campuran asal-usul, tradisi, agama dan nilai-nilai hidup.
· Secara relatif, sebagian besar penduduk kota ada dalam golongan usia produktif untuk berusaha,sehingga persaingan dalam bekerja amat tajam.
· Terjadi perbedaan yang tajam antara kaya dengan miskin.
· Pengaruh urbanisasi terhadap masyarakat pedesaan, antara lain :
· Mempercepat peleburan pergaulan hidup yang beku dan tradisional di pedesaan
· Terlantarnya pedesaan dalam lapangan sosial karena banyak penduduknya yang merantau ke kota-kota besar. Hal ini menyebabkan desa miskin bertambah mundur, baik dalam lapangan sosial ekonomi maupun dalam hal pembangunan.
Di samping akibat urbanisasi, masih banyak akibat buruk lainnya, misalnya adanya ketidaksesuaian norma desa dan kota mengakibatkan terjadinya gejala kemunduran akhlak, seperti penodongan, pelacuran, penipuan, perkelahian dan sebagainya.
Usaha-usaha pencegahannya antara lain :
· Perbaikan ekonomi pedesaan dengan cara peningkatan efisiensi pertanian, desentralisasi perindustrian, penggalian sumber-sumber baru dalam rangka memperluas lapangan kerja seperti keterampilan dan kerajinan, pariwisata dan usaha-usaha wiraswasta.
· Perbaikan mutu penduduk pedesaan dengan jalan meningkatkan jumlah dan mutu lembaga-lembaga sosial serta pendidikan seperti sekolah, gedung pertemuan, kesenian dan olah raga.
Memang harus kita sadari cara hidup di kota besar yang rasional, luas dan formal itu mempunyai pengaruh negatif terhadap berbagai masalah sosial dan kebudayaan seperti :
1. Bertambahnya berbagai macam penyakit yang berhubungan dengan urat syaraf, tekanan darah tinggi, paru-paru dan kelamin.
2. Bertambah dangkalnya kebudayaan karena adanya keinginan untuk meraih kesenangan tanpa mengabaikan norma-norma yang ada.
3. Timbulnya masalah kenakalan remaja yang merajalela.
Usaha untuk menguranginya adalah :
1. Pengarahan politik kebudayaan yang berisi pendidikan, terutama pendidikan pribadi yang berakhlak tinggi, susila dan bertanggung jawab.
2. Pembentukan golongan yang dapat menimbulkan kesadaran akan nilai-nilai hidup rumah tangga. Misalnya pembentukan rukun tetangga, PKK, Kelompok Dasa Wisma, Organisasi pemuda yang disertai rencana pembangunan lapangan sosial, ekonomi, kebudayaan dan sebagainya.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar